Friday, June 23, 2006

Surat Untuk Shahabat

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Menjumpai : Shahabat, dimanapun berada

"Orang mukmin itu bermanfaat, jika engkau berjalan dengannya
ia memberi manfaat bagimu, jika engkau bermusyawarah
(minta pendapat) ia bermanfaat bagimu, jika engkau bergaul
dengannya ia memberi manfaat bagimu
dan semua urusannya bermanfaat" (HR Abi Na'iem dari Ibn Umar)

Semoga Shahabat dan keluarga senantiasa ada dalam lindungan dan kasih sayang Alloh SWT. Amiin.
Shahabat ...

Puji Syukur kepada-Nya, bahwa kita masih diberikan waktu dan kesempatan untuk memperbaiki diri dalam rangka menuju kepada Dia yang memiliki waktu dan kesempatan. Semoga dengan waktu dan kesempatan yang diberikan ini kita tidak menyia-nyiakannya atau kita buang dengan percuma, tapi kita raih untuk kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi perjalanan diri. Kepada Muhammad Saw, manusia yang memiliki qalbun salima, kepadanyalah kita berusaha dengan sungguh-sungguh becermin agar noda di wajah kita dapat kita kenali satu persatu untuk kita bersihkan.
Shahabat ...
Apa kabar shahabat? Masihkah kau merindu? Masihkah kau berjalan? Insya Allah Perjalanan --sampai saat ini-- masih terus kita lakukan dalam upaya mencapai puncak kesejatian, walaupun secara fisik kita hampir-hampir sudah jarang bahkan tidak pernah saling tatap muka disebabkan jarak dan waktu, namun jiwa dan semangat kita senantiasa saling menyapa. Rintangan dan cobaan senantiasa datang menghadang dalam setiap langkah kaki kita dimanapun kita berada dalam upaya mencapai puncak tersebut. Rintangan dan cobaan seringkali datang baik yang dari luar maupun dari dalam diri kita. Rintangan yang datangnya dari luar diri kita mungkin bisa kita kenali satu persatu, namun rintangan yang datangnya dari dalam diri kita acapkali sulit untuk kita kenali atau kita lihat, karena ia bagaikan semut hitam yang berjalan di batu hitam pada gelap malam, kecuali dengan menggunakan kaca pembesar dan Cahaya. Denan kedua "alat" itulah rintangan terbesar dala diri kita dapat kita lihat. Setelah kita dapat melihat rintangan dalam diri kita, dan setelah rintangan tersebut senantiasa kita coba singkirkan satu demi satu, langkah demi langkah, maka perjalanan menuju puncak kesejatian akan semakin mantap dan terarah.. Mantap karena kita senantiasa berusaha untuk senantiasa mawas, terarah karena kita memang meiliki tujuan yang pasti. Dan kitapun enggan untuk berpaling ke belakang dan membatalkan perjalanan, karena kita yakin perjalanan ini begitu amat bermanfaat bagi diri. Kita berkehandak agar apapun yang kita alami dalam perjalanan ini tak akan mampu menggoyahkan tekad yang sudah dicanangkan. Namun demikian setiap sesuatu yang ada disekeliling kita harus tetap kita jadikan sebagai bahan renungan atau introspeksi diri. Sebab kita tidak ingin disebut sebagai manusia yang sombong (QS4:49; 39:60)
Shahabat ...
Perjalanan yang tengah kita telusuri ini membutuhkan "seseorang" yang mampu memotivisir diri agar senantiasa diri ini tak terlena diterpa angin semilir ataupun goyah dihantam hujan badai sekalipun. Seseorang itu adalah shahabat, yang senantiasa berlaku jujur, adil, bijak, peduli, seorang penasehat yang bukan hanya menasehati shahabatnya tapi juga dirinya. Seorang yang senantiasa menuntun pada arah yang jelas, yang genggaman tangannya kokoh dan memberikan rasa aman dan keberanian untuk mengarungi rintangan. Seseorang yang tidak mementingkan diri sendiri atau berusaha mencelakai shahabatnya (QS 37:51-57; 41:25). Shahabat perjalanan bukanlah dia yang membiarkan shahabatnya menderita ataupun dirinya yang menderita. Shahabat dalam perjalanan adalah dia yang mampu memberi arti kehidupan bagi dirinya, orang sekitarnya dan diri shahabatnya. (QS 9:119), shahabat dalam perjalanan adalah dia yang tak pernah mengenakan topeng kehidupan dihadapan siapapun.
Shahabat ...
Dalam meniti perjalanan ini, kita berusaha sekuat daya dan upaya untuk saling bantu membantu, kadang kita saling bertukar bekal yang kita bawa, sehingga kita dapat saling merasakan bekal yang tidak kita miliki. Atau terkadang kita mencari bekal bersama-sama untuk kemudian kita saling mencicipi bekal tersebut. Dengan bekal-bekal tersebut ditambah dengan bekal-bekal yang kita temui selama perjalanan itulah kita masih dapat terus melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan ini. Perjalanan tanpa bekal merupakan sikap bunuh diri dan mencerminkan ketidaksungguh-sungguhan. Bekal-bekal yang kita bawa atau kita cari tentu saja bekal yang memang sudah selektif yang dapat menunjang ke arah pencapaian tujuan (QS 59:18). Kita tidak ingin bekal yang kita bawa atau kita persiapkan adalah bekal yang mengandung racun yang dapat menyengsarakan kita sehingga kita tidak akan sampai pada puncak kesejatian dan hanya menampilkan kesemuan belaka yang akan menyebabkan borok-borok diwajah kita. (QS 18:103-106; 25:23); atau kita tidak mau bekal yang kita bawa tidak bermanfaat sama sekali dalam perjalanan ini. Susah payah kita membawanya namun tak satupun yang dapat kita manfaatkan bahkan untuk orang lain.
Shahabat ...
Menjadi bermanfaat baik bagi diri, orang sekitar ataupun shahabat sudah tentu membutuhkan tekad yang kuat yaitu berupa niat. Sebab tanpa niat yang kokoh, sesuatu akan dijalani secara sambil lalu saja atau angin-anginan. Yang terkadang bila menguntungkan secara materi akan kita jalani dan bila tidak menguntungkan tidak akan kita jalani. Kita tidak ingin pershahabatan yang kita bangun seperti yang diungkap oleh Al-Qur'an Qs 25:28-29; 43:36, yang menjadikan kita menyesal karena senantiasa memperturutkan hawa nafsu diri. Kita tidak ingin pershahabatan yang kita bangun untuk kebutuhan sesaat ataupun polesan indah kehidupan seperti layaknya fatamorgana atau buih di lautan. Kita berharap bangunan yang kita dirikan adalah bangunan yang kokoh yang memiliki fondasi yang kuat (QS 14:24). Tanpa fondasi yang kuat, maka bangunan tidak akan bertahan lama.(Qs 29:41), bahkan hancur dan akan menimpa penghuninya.
Kita ingin agar kita menjadi bermanfaat, seperti yang diungkapkan oleh Nabi kita. Jalan ke arah sana akan terus kita upayakan secara bersama-sama. Untuk itu kita butuh tali pengikat, agar apa yang kita lakukan tidak mudah putus dan terputus. Tentu saja Tali itu haruslah kokoh, kuat agar kita tidak terjatuh karenanya. Sesuatu yang mudah putus tentu saja tidak baik bila dijadikan sebagai ikatan, karena nantinya akan membuat kita celaka. Alhamdulillah. Kita -insya Alloh - telah memiliki tali itu. Dengan-Nya lah kita bergantung, dengan-Nyalah kita saling mengikat, sehingga kita tidak akan terjatuh karena kita amat begitu yakin dengan kekuatan Tali tersebut.. Saling menganjurkan pada kebaikan, saling mencegah terhadap kemunkaran adalah syarat makin kokoh dan kuatnya ikatan tali tersebut demi berlanjutnya pendakian ke puncak kesejatian.(QS 9:71-72)
Shahabat ...
Menuju puncak kesejatian membutuhkan ketulusan atau hati yang bersih. Sebab hati yang tidak bersih walaupun kita berada di suatu tempat yang suci, tetap saja tidak akan mendekatkan diri kita pada Kesejatian. Sebaliknya dengan hati yang bersih, dimanapun kita berada, kita --insya Alloh-- akan senantiasa dekat dengan kesejatian. Dengan kebersihan hati, kita tidak pernah berniat apa lagi melakukan hal-hal yang dimurkai Tuhan. Karena kita amat meyakini Sesuatu yang sejati dan suci hanya dapat disentuh/diraih dengan kesucian pula. Dan kitapun yakin bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan yang diberikan oleh Yang Maha Sejati.
Shahabat ...
Akhirnya dengan mengucap syukur kehadirat Ilahi Robbi dengan tidak lupa memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan selama menjalin pershahabatan yang luput dari pandangan dan perasaan kita(3:133-135), kita akan terus berusaha menampilkan diri yang bermanfaat, karena kita yakini dalam pengadilan kelak mereka-mereka yang bermanfaat dan qalbun salimalah yang akan selamat. Untuk itu tetap pada orbit Ilahi adalah syarat mutlak agar kita tidak terlempar dalam lembah kebinasaan. Amiin
Ya Alloh tiada yang lebih bahagia dalam menjalin pershahabatan dan persaudaraan selain pershahabatan dan persaudaraan ini makin mendekatkan diri kami pada Engkau.

("Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu serta cinta yang dapat mendekatkan aku kepada cinta-Mu. Ya Alloh, jadikanlah cinta-Mu sesuatu yang paling aku cintai, daripada cintaku pada keluargaku, hartaku dan air dingin saat dahaga. Ya Alloh buatlah aku mencintai-Mu, malaikat-malaikat-Mu, Nabi-nabi-Mu, Rasul-rasul-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang shalih. Ya Alloh hidupkanlah hatiku dengan cinta-Mu dan jadikanlah aku bagi-Mu seperti yang Engkau cintai. Ya Alloh, jadikanlah aku mencintai-Mu dengan segenap cintaku, hatiku dan ridha kepada-Mu dengan segala usahaku")
Shahabat masih ingatkah kau?
Wassalammualaikum warahmatullohi wabarakatuh.
AMMS

3 Comments:

At 1:23 PM, Anonymous Anonymous said...

Tulisan Akh Naufal jadi mengingatkan saya pada nasehat yang disampaikan Syekh Akbar Ibn ’Arabi di dalam kitab Kunh Ma la Budda Minhu li al-Murid. Berikut saya nukilkan cuplikannya:

“Jangan habiskan usiamu dalam usaha-usaha yang hampa. Jangan buang waktumu dalam perbincangan tak berguna. Sebaliknya, renungkan dan ingatlah Allah. Bacalah Al-Quran. Bimbinglah orang-orang yang tersesat ke jalan yang terang-benderang. Bantulah orang lain meninggalkan kejahatan dan alihkan kepada perbuatan baik. Perbaiki persahabatan yang rusak. Bantulah orang lain untuk membantu satu sama lain.


Kemudian beliau juga melanjutkan:



“Temukan sahabat yang tepat, yang akan menjadi pendukungmu, seorang kawan perjalanan yang baik di jalan kebenaran. Iman adalah sebuah benih. Ia tumbuh menjadi sebatang pohon dengan pengairan dan penyinaran yang bagus dari seorang sahabat yang beriman.....”


Subhanallah... Semoga persahabatan yang ada selalu terbingkai dalam susana ukhuwah dan dakwah.

 
At 1:01 PM, Anonymous Anonymous said...

Syair hari jum'at untuk majelis ulama

Sebentar-sebentar kau bilang sesat
Sebentar-sebentar kau ucap bid,ah
Sebentar-sebentar kau kata musyrik
dan selalu kau desiskan Sorga dari lidahmu yang
panjang.....
halal dan haram harus melalui tanda-tanganmu
diteliti lagikah,siapa yang tau!!
ulamaku...
ulamaku.
adakah kreteria itu melekat pada dirimu
yang sering disebutkan ali sang "pintu"nabi
tidakah kau ingin menangis melihat umatmu tengah dicabik-cabik kekuatan dari "dalam" yang ganas dan
tengah
mengeliat diseluruh belahan bumi...
ulamaku....
ulamaku.
kaulah warisan muhammad saw nabi suciku.
janganlah musnah di telan gelombang kemewahan
jangan padam oleh bisikan yang menakutkan
walau harus tersingkir dari dari istana fatamorgana
tapi karya sejatimu tak akan musnah ulamaku....
Seharum Hamza fansuri semerbak-mewangi tiadakan pernah
mati.....
oh ulama-ulamaku
duhai jalan menuju kota ilmu
aku cinta padamu
karena ketinggian ilmu dan budimu
pasti kuserahkan jiwaku...
ulamaku...aku yang awam ini ingin bertanya padamu!
tentang hari jum'at dan kebesarannya!
tentang keindahan dan berkah malam nya!
tentang siangnya yang seperti hari raya!
tentang diabdikan nya hari itu didalam alquran!
dan umat islam yang mayoritas ini...
yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini!
mengapa tidak bisa libur nasional untuk hari itu?
ceritakanlah padaku duhai ulamaku..
jika memang kau masih ada di bumi pertiwi ini!
mengapa tidak bisa?
http://groups.yahoo.com/group/dato_kemala/
http://groups.yahoo.com/group/penyair

 
At 9:03 AM, Anonymous Anonymous said...

Teman saya bertutur, untung hari Jum'at tidak libur, kalau libur mungkin tidak ada Mesjid di gedung-gedung perkantoran, sekolah-sekolah dan tempat-tempat lainnya.
Teman saya juga bertutur, "malam-malam" dalam tujuh hari adalah saat yang tepat untuk "berbisik", "berbincang", "menangis", dan "tertawa" kepada-Nya.
Teman saya juga bertutur, bahwa Abu Bakar harus memerangi orang-orang yang "menyelewengkan" agama ini, walaupun ia harus mendapat tekanan/ sangahan dari shahabat-shahabat terdekatnya.
Teman saya juga bertutur, bahwa masing-masing kita memiliki tugas masing-masing. Dokter berusaha "menyembuhkan" pasien. Guru "mendidik" murid, dan ulama memberikan "arah" bagi ummat.

 

Post a Comment

<< Home