Wednesday, May 31, 2006

yang sangat dibenci IBLIS

Oleh : Muhasuh
Mungkin kita mengira bahwa amal-amalan kebaikan kita berupa Shalat, Puasa, membaca Al-Qur’an, Haji, zakat dan lain-lain kebaikan adalah hal yang amat dibenci oleh Iblis. Seringkali kita ditanya oleh rekan kita atau siapapun perihal amalan yang dibenci oleh IBLIS niscaya kita akan menyebutkan hal tersebut di atas.

Apa yang kita ungkapkan tersebut tidaklah salah, sebab memang dalam hal-hal tersebutlah Iblis berusaha dengan sekuat tenaga dan upaya mengalihkan perhatian kita agar tidak konsentrasi (khusuk) dalam menjalankannya. Upaya iblis tersebut tidak lain agar ia mendapat pengikut sebanyak-banyaknya. Untuk itulah iblis melakukan langkah-langkah atau program dari A sampai Z dengan memutarbalikkan kenyataan Ilahi, yang benar dihadapan Tuhan menjadi salah; yang salah dihadapan Tuhan menjadi benar. Mereka berupaya agar kita memenuhi hasrat hawa nafsu dengan mengenyampingkan nilai-nilai wahyu. (QS 15: 39)

Sebelum Iblis berhasil dalam upayanya mengalihkan manusia, maka ketidakpuasan senantiasa ada dalam diri Iblis itu sendiri. Untuk itu mereka menerjunkan semua penggoda-penggoda manusia. Penggoda-penggoda yang diterjunkan iblis tidak kepalang tanggung, dia menugaskan seluruh lapisan kekuatan yang dimilikinya, dari tingkatan pemula sampai dengan tingkatan expert atau dari kelas teri sampai kelas kakap, dari pasukan berkuda sampai pejalan kaki. (QS 17:64). Tergantung dari kadar keimanan seseorang, makin tinggi kada keimanan, makin tinggi jabatan penggodanya dan sebaliknya.

Maka tidaklah mengherankan apabila dari semua sisi kehidupan yang kita jalankan, iblis senantiasa ada di dalamnya. Atau dalam istilah Al-Qur’an Iblis akan mendatangi/ menggoda kita baik dari depan, belakang, kiri, kanan. Intinya seluruh sendi kehidupan yang kita jalani, maka kekuatan Iblis ada disana. (QS 7: 17)

Apabila upaya mengalihkan konsentrasi manusia telah berhasil, maka Kegembiraan akan senantiasa ada dalam diri Iblis, dan tidak sampai disitu saja Iblis bertindak, malah lebih jauh sampai manusia/ kita ada dalam permainannya dan mau mengikuti apa yang diperintahkannya. Dan bila upaya-upaya yang dilakukan belum berhasil maka upaya-upaya apapun terus dilakukannya, IBLIS pantang mundur.

Namun demikian Iblis acapkali kecewa terhadap satu rahmat Allah yang diberikan kepada manusia. Suatu rahmat yang menyebabkan upaya dan usaha iblis dalam menyesatkan manusia selama bertahun-tahun sirna tanpa bekas. Itulah rahmat yang bernama “TOBAT”. Tobat inilah yang amat sangat dibenci oleh Iblis. Kebencian tersebut amat beralasan, sebab sekali manusia bertobat, maka seluruh kejahatan-kejahatan hasil upaya Iblis seketika itu luluh lantah, bak panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Bahkan kejahatan seumur hidup luluh seketika walaupun manusia belum melakukan kebajikan. Dan bahkan dosa yang kita bawa melebihi beratnya bumi dan tingginya langitpun dapat dengan seketika terhapus karenanya. (QS 7 : 153)

Perhatikanlah Firman Allah dalam Hadits Qudsi berikut:
Wahai Bani Adam! Apabila engkau mengajukan permohonan dan mengharap kepada-Ku, Ku ampuni segala yang ada padamu tanpa peduli. Wahai Bani Adam! Sekalipun dosamu bertumpuk-tumpuk hingga setinggi langit, tapi kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Ku ampuni dosamu. Wahai Bani Adam! Sekiranya engkau datang dengan dosa setimbang bumi, kemudian engkau menemui Aku dalam keadaan tidak mensekutukan Aku dengan sesuatupun, niscaya Aku kurniakan ampunan setimbang dosa itu. (HQR Turmudzi dari Anas)

“Tobat “ sepertinya hal yang kecil dan sepele, namun memiliki kekuatan yang amat dahsyat dalam menghancurkan segenap kesalahan/ kejahatan/ kebathilan. Namun demikian tidak semua manusia dapat melakukannya. Ketidakmauan dan ketidakmampuan manusia dalam melakukan taubat disebabkan oleh anggapan bahwa dirinya bersih/ suci atau dia tidak merasa menyekutukan/ bermaksiat kepada Tuhan atau dia merasa tidak berbuat salah terhadap manusia yang lainnya. Atau dia merasa kejahatannya sudah tak mungkin dapat diampuni Jadi buat apa Tobat? Demikianlah manusia yang berfikiran seperti itu senantiasa menghalangi dirinya untuk meraih rahmat Allah.

“Tobat” yang dimaksud dalam uraian ini bukanlah tobat bak orang makan rujak pedas, saat makan kepedasan dan tak mau makan lagi, tapi begitu besok ada rujak maka dilahap lagi rujak itu.

Dengan demikian “tobat” yang diterima disisi Allah bukanlah Tobatansambal, tabi Taubatan yang sungguh-sungguh (Taubatan-Nashuha) (QS 25: 71). Taubatan Nashuha memiliki persyaratan-persyaratan tersendiri, seperti (1) kesungguhan untuk mengakui kesalahan, (2) kesungguhan untuk meninggalkan kejahatan, dan (3) kesungguhan untuk meraih kebaikan. Tanpa itu maka taubatnya masuk dalam kategori Taubat Sambal.

Ttobat adalah perbuatan yang amat mulia di sisi Allah. Hadits berikut dapat menggambarkan kemuliaan Tobat disisi Allah SWT

Nabi SAW bersabda :”Sesungguhnya Allah sangat gembira menerima tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang yang berkendaraan di tengah padang pasir tetapi hewan yang dikendarai meninggalkannya, padahal di atas hewan itu terdapat makanan dan minuman,, kemuidan dia berteduh di bawah pohon, dan membaringkan badannya, sedangkan ia benar-benar putus asa untuk menemukan kembali hewan tersebut. Ketika bangkit, tiba-tiba ia menemukan hewan tersebut lengkap dengan bekal yang dibawanya, iapun segera memagang tali kekangnya, seraya berkata karena sangat gembira: “YA ALLAH, ENGKAU ADALAH HAMBAKU DAN AKU ADALAH TUHANMU”. Ia keliru mengucapkan kalimat itu karena luapan kegembiraannya”. (HR Muslim- RS1 17-18)

Orang yang melakukan Tobat adalah orang yang memahami hakekat dan manfaat Tobat bagi dirinya, sampai-sampai Rasulullah SAW sendiri mengatakan bahwa ia bertobat sehari sebanyak 70 sampai 100 kali. Allah menganjurkan kepada orang-orang yang beriman agar bertobat untuk meraih keberuntungan (QS 24: 31)

Asal muasal tobat amat dibenci oleh Iblis, tentunya dapat kita telusuri hal tersebut dari kejadian manusia pertama sampai dengan diturunkannya manusia dari sorga ke bumi. Usai kejadian Adam dan Hawa makan buah terlarang, tidak lama mereka berdua bertobat atas apa yang telah dilakukannya, tobat Adam diterima, maka seketika itupun luluh lantah dosa dan kesalahan yang diperbuatnya. sementara Iblis enggan melakukannya dan tetap berada dalam “kesombongan”. (QS 2: 37). Bahkan Iblis bertekad untuk menghasung anak cucu Adam menjadi pengikutnya. Untuk itulah Iblis senantiasa menghembuskan manusia untuk memperlambat tobat.

Dan yang menjadi penghalang seseorang dalam melakukan Tobat adalah “Kesombongan”, sebagaimana kesombongan Iblis terhadap kemampuan/ kelebihan dirinya dari makhluk yang lain. Untuk itulah dalam mengantisipasi “TOBAT”, Iblis melancarkan serangan dengan menggunakan senjata berupa “KESOMBONGAN” ke dalam dada manusia. Hal ini dilakukan karena berdasarkan pengalaman pribadi. Iblis sudah merasakan Keingkarannya kepada Allah karena senjata kesombongan itu.

Semoga Tobat kita diterima Allah SWT. Dan semoga kesombongan sedikit demi sedikit dapat mencair dari dalam dada kita.

7 Comments:

At 9:35 AM, Anonymous Anonymous said...

Subhanallah... pesannya mudah ditangkap Akhi.. syukran.. moga dapat kita 'amalkan!

Iblis adalah makhluq sombong yang terus menyesatkan manusia dari jalan keselematan Islam.

Tapi Akhi, ada satu hal yang saya ingin tahu tanggapan dari Ant perihal pendapat yang mengatakan bahwa iblis akan masuk syurga, bahkan mendapat kedudukan yang lebih tinggi dibanding manusia oleh karena iblis tidak mau bersujud pada adam.

Saya terkejut, karena tafsirnya terlampau 'jauh' menurut saya. Pernyataan yang saya dapatkan salah seorang tokoh JIL ini, mestinya tidak boleh mengakar menjadi keyakinan seorang Muslim.

So?

 
At 9:38 AM, Anonymous Anonymous said...

Afwan ada salah ketik...

Pada paragraf terakhir komentar saya tertulis :

Saya terkejut, karena tafsirnya terlampau 'jauh' menurut saya. Pernyataan yang saya dapatkan salah seorang tokoh JIL ini, mestinya tidak boleh mengakar menjadi keyakinan seorang Muslim.


Seharusnya :
Saya terkejut, karena tafsirnya terlampau 'jauh'; minimal menurut saya. Pernyataan yang saya dapatkan dari salah seorang tokoh JIL ini, mestinya tidak boleh mengakar menjadi keyakinan seorang Muslim.


Terimakasih! ;)

 
At 9:56 AM, Anonymous Anonymous said...

Kita bisa telusuri pendapat yang menyatakan "Iblis akan masuk syurga bahkan menempati kedudukan yang tertinggi karena menolak bersujud kepada Makhluk", merupakan pendapat dari Al Arabi (Ibn Arabi - kalau saya tidak salah), yang di Indonesia dipopulerkan oleh kelompok Alm. Nurcholis Madjid. Secara pribadi kalau saya di minta untuk berpendapat perihal tersebut, jelas saya katakan itu merupakan kebohongan yang besar. Kebohongan yang sama sekali tidak dapat diterima baik dari dalil Naqli maupun aqli.

Logika tersebut mengisyaratkan "Tuhan" salah dalam memberi perintah. Kalau sudah begini, lalu kebenaran yang Mutlakpun bisa untuk ditolak, yang akhir-akhir ini digelorakan oleh kelompok Paramadina dan JIL yang mengatakan semua agama sama.

Begitu dulu Br Al-Kiffah.

 
At 11:13 AM, Anonymous Anonymous said...

Subhanallah... Saya sepakat Akh! Untuk itu, semoga umat Islam kian bijak menyikapi hal ini.

Wallahua'lam ...

 
At 10:16 AM, Anonymous Anonymous said...

Trims atas pertanyaannya.
Mas Kiffah saya sebenarnya tidak begitu amat mengetahui perihal tarekat. Secara pribadi Saya hanya berusaha mengamalkan apa yang memang Allah & Rasul-Nya ajarkan.

Saya berangkat dari konsep Syahadat, yang saya fahami disana terdapat dua hal yang mesti kita ikuti, yaitu (1) Kesatuan Ibadah dan (2) kesatuan Ittiba. Kesatuan Ibadah berarti bahwa kita wajib menjalankan apa-apa yang memang sudah diperintahkan oleh Allah, sementara kesatuan Ittiba dalam melakukan "sesuatu" tersebut wajib mengittiba pada Rasul.

Adapun apabila dalam tindakan sehari-hari kita, bila menurut orang lain merupakan jalan tarekat, itu hal lain.

Jadi saya mohon maaf untuk Mas Kiffah kalau saya tidak/ belum dapat menjawab dari sisi saya pribadi perihal aktifitas tarekat.

Mungkin lain kali jawaban tersebut dapat saya berikan.

Ditunggu komentarnya.
Salam

 
At 10:14 PM, Anonymous Anonymous said...

Hal ini memang perkara halus, Akh. Tarekat, dalam perkembangan pemikiran zaman, ada yang pro namun banyak pula yang menolak konsepsinya. Untuk itu, saya harus bijak dan harus berhati-hati dalam mengusung suatu istilah yang barangkali berbeda dengan pendapat orang lain.

Sebenarnya saya khawatir akan ‘peng-hakiman’ atas vonis tertentu terhadap suatu ‘kelompok’ dari suatu golongan lain yang barangkali berbeda dalam sudut pandang. Untuk itu, saya ingin mengetahui perkara ini lebih lanjut.

Dan saat ini pun saya masih mencari jawaban dari berbagai versi yang ada. Mungkin karena kapasitas keilmuan saya yang begitu dangkal (lah) sehingga belum menemukan kemantapan hati dalam menelaah perkara ini.

Akan tetapi, tetap yang saya jadikan parameter adalah Al Qur'an dan As Sunah; ketika suatu pemikiran memang berasal dari Islam, tentu pemikiran itu akan saya terima sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam. Namun, apabila tak sesuai dengan Islam, sudah pasti pula pemikiran itu wajib tertolak.

Wallahua’lam bishshowaf..!

*Ditunggu jawaban selanjutnya* ;)

 
At 5:02 PM, Blogger Bambang Sabirin said...

Ikut ah dari Abu Hadi "Orang tahu apa apa tidak mencintai apapun"

 

Post a Comment

<< Home