Friday, May 12, 2006

"...Tapi Kalian Sangat Tergesa-Gesa"

Oleh : Muhasuh
Ingin rasanya kita memiliki Tongkat Musa...
Ingin rasanya kita memiliki kepandaian Sulaiman...
Ingin Rasanya kita memiliki kepandaian Isa...
Ingin rasanya kita memiliki kepandaian orang-orang pandai...
Agar kita bisa tersenyum simpul...

Dalam meniti kehidupan, kita dihadapkan oleh berbagai macam persoalan-persoalan, baik persoalan yang membuat kita menikmatinya dengan "tersenyum simpul" ataupun persoalan yang membuat "dahi berkerut". Kalaulah kita diminta untuk memilih diantara keduanya, tentunya "tersenyum simpul" adalah pilihan utama kita dan berharap "dahi berkerut" menjauh dari hadapan kita.

Setiap orang yang berusaha dalam aktifitas kehidupannya berharap bahwa apa saja yang dilakukannya mesti berhasil, dengan keberhasilan inilah dia akan mampu menggapai kesenangan-kesenangan yang didambakan. Dan dengan sudah digapainya apa yang didambakan tersebut, maka ia dapat dengan leluasa "tersenyum simpul" kepada siapapun yang dijumpainya.contoh-contoh yang membuat seseorang tersenyum simpul, misalnya seorang yang berusaha melestarikan alam, akan tersenyum simpul bila usahanya menanam pohon penghijauan, menjaga kelestarian alam dan mengajak manusia untuk menjaga kelestarian hutan berhasil. Atau seorang dokter yang ditugaskan di daerah terpencil akan "tersenyum simpul", manakala ia telah mampu mengajak masyarakatnya hidup sehat dan telah mampu memberikan pelayanan yang baik bagi mereka walaupun mungkin harus mengorbankan kepentingan pribadinya. Karena ia yakin itulah tugasnya. Atau seorang guru akan tersenyum simpul manakala ia telah mampu mencetak anak didik sesuai yang diharapkannya. Atau seorang yang sedang berdiskusi akan "tersenyum simpul" manakala ia telah mampu menarik perhatian dan mampu memberi pemahaman kepada lawan diskusinya. Atau siapa saja diantara kita akan "tersenyum simpul" manakala kita mampu mendapatkan sesuatu yang selama ini menjadi dambaan kita. Dan banyak atau... atau lagi yang membuat kita tersenyum simpul..

Namun tidak semua aktifitas kehidupan kita berakhir dengan "tersenyum simpul", seperti yang dikemukakan di atas. Banyak aktifitas-aktifitas yang kita lalui berakhir dengan "dahi berkerut". Sebut saja misalnya apabila usaha yang kita jalani selama ini berakhir dengan kegagalan dan kegagalan. Atau seorang aktifis islam akan berkerut dahinya,manakala yang ia dapatkan dalam jamaahnya tidak sesuai dengan "pemahaman keislamannya" tentang jamaah. Atau seorang anak kecil akan berkerut dahinya dan merengek, berguling-guling di tanah bila ia gagal mendapatkan sesuatu dari orang tuanya. Atau orang yang sedang ditimpa musibah berupa sakit, akan berkerut dahinya manakala sakitnya tak sembuh-sembuh. Atau seorang yang harapan dan keinginannya yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tiba-tiba mengalami kegagalan. Dan masih banyak contoh-contoh dalam kehidupan ini yang membuat dahi berkerut.

Itulah sekilas gambaran tentang aktifitas yang kita lalui yang sering kali membuat dahi kita berkerut atau terkadang tersenyum simpul. Khusus dalam tulisan ini akan difokuskan pada permasalahan yang membuat dahi kita berkerut.

Dalam benak kita, ingin rasanya semua kehidupan yang kita lalui ini berakhir / bermuara pada kesenangan, sehingga tak jarang diantara kita "berangan-angan", yang sering kali angan-angan tersebut membumbung tinggi sampai menembus langit ketujuh. Dalam angan-angan tersebut ingin rasanya kita memiliki "Tongkat Musa", yang dengan sekali ketuk laut menjadi terbelah sehingga kita bisa melaluinya dan juga bisa mengambil ikan atau mutiara yang dikandungnya (?). Atau ingin rasanya kita memiliki "kepandaian Sulaiman", yang dengannya kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan. Ingin ke Hollywood, Seaworld, TMII, Hongkong, Singapore tinggal memerintahkan angin agar membawa kita ke tempat-tempat yang kita inginkan, atau agar kita bisa menghalau angin puting beliung agar tidak memporakporandakan suatu negeri, atau kalau ada orang yang membuat kita kesal kita bisa melampiaskannya melalui bercanda dengan hewan peliharaan kita. Ingin rasanya kita memiliki "kepandaian Isa", yang dengannya kita dapat menghidupkan orang-orang yang kita cintai, atau dapat menyembuhkan penyakit yang kita atau orang-orang kesayangan kita derita dengan sekali usap. Kita juga ingin bisa berjalan di atas air, agar bisa menghemat transportasi yang makin mahal (?), atau agar kita bisa mengail dimanapun di laut yang kita inginkan. Ingin rasanya kita memiliki segala macam kepandaian yang dimiliki oleh "orang-orang yang pandai" agar kita mampu menyelesaikan kesulitan yang sedang kita hadapi dan tidak lagi bergantung padanya. ingin rasanya kita memiliki keberanian seperti "Hercules" agar kita bisa menghadapi setiap orang yang berbuat jahat kepada kita.

Untungnya kaki kita masih menapak di bumi, itu menunjukkan bahwa kita masih memiliki kesadaran sempurna, dan dengan kesadaran yang sempurna itu berarti kita "belum" butuh untuk memiliki keajaiban-keajaiban seperti tersebut di atas. Andaikan kita memilikinya pastilah kita menjadi orang yang malas, sombong, angkuh dan sifat-sifat jelek lainnya.

Kehidupan haruslah dilalui dengan kenormalan, sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia yang memiliki segala sesuatunya untuk bertahan dalam kehidupan. Jangankan kita, syetan saja tidak serta merta membuat kita terjerumus dalam dosa dan nista, tapi butuh "langkah-langkah" dalam pencapaiannya. Tapi inilah hidup. Tekanan yang begitu kuatnya membuat kita stress/ depresi dan "ingin" mencari jalan pintas/ keajaiban. Banyak cara dilakukan dalam menuju keajaiban tersebut. Ada yang hilang akal dengan mendatangi "orang pintar" (karena kita manusia bodoh), tempat/ benda keramat. Ada juga orang yang meburu "kyai" untuk mendapatkan doa-doanya/ amalan-amalan, karena mereka yakin doa Kyai lebih makbul dari doanya.

[Perihal kyai ini, saya mendapat pelajaran yang bagus dari khutbah jum’at. Seorang Khatib bercerita bahwa dia diminta untuk memberikan doa-doa oleh seorang pedagang agar dagangannya laris, karena selama ini sepi. Si Khatib tahu bahwa orang yang meminta itu adalah orang yang lebih fasih doa-nya dari dirinya. Kemudian si Khatib bertanya kepada orang tersebut perihal lokasi dan kebiasaan orang tersebut dalam melakukan usahanya. Orang tersebut bilang kalau ia berdagang di suatu jompleks di Jakarta. Dan kebiasaannya membuka warung setelah ia nyeruput kopi setelah shalat shubuh, sehabis shalat shubuhpun ia berwirid yang agak panjang. Praktis ia membuka warung sekitar pukul 06.30. Mengertilah si Kyai bahwa bukan do’a yang dibutuhkan oleh sipedagang tadi melainkan mengubah kebiasaan membuka warung sipedagang. Si Kyai tahu bahwa Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur apalagi kompleks perumahan. Penghuninya pergi pag-pagi buta dan kembali untuk tidur pada malam hari. Jadi si Kyai memberi saran agar sehabis shalat shubuh berwirid secukupnya dan langsung buka warung jangan nyeruput kopi dulu. Ketika saran tersebut di lakukan oleh sipedagang, maka lusa pagi ada satu dua orang yang membeli indomie, lambat laun terdengar sas sus bahwa di kompleks ada warung yang buka pagi-pagi buta untuk memenuhi kebutuhan mereka. Maka dari mulut ke mulut tersebarlah keberadaan warung sipedanag tadi. Akhirnya tidak berapa lama warung itu setiap pagi didatangi oleh pembeli.]
Keajaiban-keajaiban yang kita inginkan dalam aktifitas kita ternyata pernah pula diharapkan/ dilakukan oleh sebagian masyarakat dalam masa kehidupan Nabi kita. Dalam contoh berikut hanya dikemukakan 2 (dua) contoh yang kita yakin dapat merupakan Ibrah bagi kita.
(1) Dalam masa-masa perkembangan islam di Makkah misalnya, banyak shahabat yang disakiti oleh kaum "musyrikin", sampai-sampai mereka mengeluh kepada Nabi dan agar Nabi memohon untuk berdoa agar SEGERA dikirimkan bantuan Alloh kepada mereka. Sebagai "guru" yang bijak Nabi tentu saja memahami apa yang dibutuhkan oleh umatnya. Nabi yang setiap doanya dikabulkan (kecuali dalam satu hal, yaitu menghindari pertikaian sesama muslim) tidak serta merta menggunakan "keajaiban" itu. Nabi juga tidak takut kehilangan (ditinggalkan) ummat dengan tindakan dan ucapannya itu. Beliau yakin bukan "Keajaiban" yang dibutuhkan oleh ummatnya, tapi "ketebalan" imanlah yang dibutuhkan umat. Belau yakin "keajaiban" tanpa usaha dan tanpa mau menanggung resiko adalah suatu kepatalan dan kebodohan bagi masa depan ummat, dan juga akan berakibat buruk bagi perkembangan jiwa ummat. Seandainya hal tersebut dilakukan maka lambat laun ummat ini akan sama seperti ummat Musa yang berkata: "biarkanlah kamu (Musa) dan Tuhanmu memerangi Musuh sementara kami duduk duduk sambil menyaksikannya". Kita bersyukur bahwa Nabi Saw tidak melakukannya.
Sabda Nabi Saw:
Dari Abu Abdullah Khabbab bin Arati, ia berkata: "Kami mengadu kepada Rasulullah Saw. Saat ini beliau sedang berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah (sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat). Kami bertanya: "apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami? Apakah engkau tidak mendoakan kami?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang sebelum kalian, ada yang ditanam hidup-hidup, digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya terbelah dua dan adapula seseorang yang disisir dengan sisir besi sehingga mengenai daging kepalanya, yang demikian itu tidak menggoyahkan agama (iman) mereka. Demi Allah, Allah pasti akan mengembangkan agama Islam ini hingga merata di Shan’a sampai ke Hadramaut dan masing-masing dari mereka tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya kambing terhadap serigala. TETAPI KALIAN SANGAT TERGESA-GESA" (HR Bukhari RS1 65-66)

Ya! Sering kali kita tergesa-gesa dan ingin keajaiban, sementara Nabi kita berfikir logis, setiap aktifitas membutuhkan usaha, ketegaran dan pengorbanan. (BTW ada dikalangan aktifis islam hari ini yang karena beratnya dalam merealisasikan nilai-nilai Ilahi berfikir seandainya ia dapat hidup dalam masa Nabi tentu lebih enak. Dia tidak sadar andaikan dia hidup dalam masa Nabi bisa saja dia masuk dalam kelompok Munafik, Abu Lahab, Abu Jahal dan lain-lain)

(2) Contoh yang ke dua dalam masalah menghadapi penyakit. Seringkali kita juga mengharapkan keajaiban muncul dalam masalah ini, baik untuk penyakit berat, sedang ataupun ringan. Kadang tanpa sadar kita mengeluh karenanya. Padahal kita belum berusaha untuk menyembuhkannya. Andaikan kita berusaha, kita juga berharap, sekali ke dokter langsung sembuh atau sekali minum obat langsung hilang penyakitnya. Kalau tidak sembuh maka berkerutlah dahi kita sejadi-jadinya. Bahkan tak jarang kita menahan sakit sambil berteriak aduh, emak, s**l*n, br*ngs*k dan lain-lain caci maki kita, dari yang sopan sampai yang kasar. Padahal dalam pandangan islam, sakit disamping sebagai ujian juga berfungsi mengurangi dosa dan kesalahan kita, itu kalau kita sudah berusaha dan shabar karenanya.

Dari Atha’ bin Abu Ribah, ia berkata: Ibnu Abbas ra berkata kepadaku: "Maukah saya tunjukkan seorang wanita yang termasuk ahli Surga?" Saya menjawab: "Tentu saja saya mau". Ia berkata: "Adalah wanita berkulit hitam yang pernah datang kepada Nabi Saw, waktu itu berkata: "Sesungguhnya saya mempunypenyakit ayan, dan aurat saya terbuka karenanya; oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah agar penyakit saya sembuh". Beliau kemudian bersabda: "Apabila kamu mau shabar maka kamu akan masuk surga, dan apabila kamu tetap meminta maka sayapun akan berdoa kepada Allah agar engkau sembuh dari penyakitmu". Wanita itu menjawab: "Kalau begitu saya akan bershabar". Kemudian wanita itu berkata lagi: "Sesungguhnya aurat saya terbuka karenanya, oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah agar aurat saya tidak terbuka". Maka Nabipun berdoa untuknya agar auratnya tidak terbuka". (HR Bukhari & Muslim) RS1 62-63.

Sering kita/ orang-orang kesayangan yang ada disekitar kita mengalami sakit yang sampai parah. Ketika itu, disaat-saat kritis ingin rasanya keajaiban muncul dengan sembuh total secara tiba-tiba. Penderita yang tengah terengah-engah menghadapi sakit yang amat beratnya berupa penyakit kronis (komplikasi), tidak ada harapandan doa kita melainkan kesembuhan. Inilah egonya kita, kita tak pernah melihat musibah dari diri yang mengalaminya. Boleh-boleh saja kita memohonkan kesembuhan, tapi haruskah itu? Atau apakah tidak ada jalan lain? Seorang penderita kanker stadium IV atau penderita penyakit kronis (komplikasi) atau penyakit berat lainnya yang sudah divonis oleh dokter sedang "mengerang" menahan sakitnya. Doa kita untuknya umumnya "mohon kesembuhan". Tak sadarkah kita bahwa itu akan membuat penderita lebih merana, karena doa kita? Tak sadarkan bahwa itu cuma ego kita yang tak sanggup untuk ditinggalkan orang yang kita kasihi. Atau apakah kita harus berputus asa dari rahmat Allah? Dan lebih baik mengakhiri hidup karena "membebani" orang-orang terdekat kita. Nabi mengajarkan kepada kita dalam sabdanya:

Dari Anas ra, ia berkata: "Rasulullah saw bersabda: janganlah salah seorang diantara kamu sekalian menginginkan mati karena tertimpa kesulitan. Seandainya terpaksa harus berbuat demikian, maka ucapkanlah: "Ya Allah, biarkanlah aku hidup apabila hidup lebih baik bagiku, dan matikanlah aku apabila mati itu lebih baik bagi ku". (HR Bukhori & Muslim) RS1 65

Ya, kenapa kita tidak mengucapkan kata-kata "Ya Allah, biarkanlah aku (dia) hidup apabila hidup lebih baik bagiku (dia), dan matikanlah aku (dia) apabila mati itu lebih baik bagi ku (dia)"? Kenapa ego kita begitu besar? Kenapa senantiasa keajaiban yang kita minta? Ternyata keajaiban memang memegang peranan dalam kehidupan kita, terutama disaat-saat kritis.

Kita berharap semoga dalam menghadapi persoalan kehidupan, apapun bentuknya baik yang menyenangkan maupun yang tidak mengenakkan tetap membuat kita "tersenyum simpul" karenanya.

(Buat diri yang tengah berusaha tegak, semoga)

1 Comments:

At 9:20 AM, Blogger s.id/emtee said...

ternyata, lu masih FQ juga...
hehehe, beruntung deh gw karena lu sekarang punya blog. kan jadi bisa usrah online...

undang temen2 yang laen dong! biar bisa cyber-silaturahim, lebih flexi dan santai, namun tetap hati terasa terpaut.

 

Post a Comment

<< Home