Friday, April 28, 2006

Menyayangi Sesama

Oleh : Muhasuh


Tanpa kepedulian akan tumbuh kegersangan dalam jiwa .
Dan bila jiwa manusia sudah "gersang",
maka yang ada hanyalah hawa nafsu belaka.
Dan bila hawa nafsu sudah merajalela,
maka kehancuranlah yang bakal terjadi.



Hadits Nabi SAW
"Ketika seorang laki-laki sedang dalam perjalanan, ia kehausan. Ia masuk kedalam sebuah sumur yang curam, lalu minum disana. Kemudian ia keluar. Tiba-tiba ditemuinya seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata : Anjing ini sedang merasakan apa yang telah saya rasakan. Lalu ia turun kembali ke sumur itu, memenuhi sepatunya dengan air, membawanya ke atas dengan menggigit sepatu itu, terus naik kembali ke atas dan memberi minum anjing itu. Alloh berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya". Para shahabat bertanya : Hai Rasululloh! Kalau kami mengasihi binatang apakah kami memperoleh pahala? Beliau bersabda: "Setiap hati yang pengasih mendapat pahala"Muslim 2098
---
Islam adalah dien (agama) bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin). Setiap penganutnya diwajibkan untuk senantiasa menebarkan rahmat bagi makhluk yang ada disekitarnya. Islam sendiri adalah keselamatan, yaitu keselamatan bagi diri dan lingkungannya. Allohpun memiliki sifat kasih dan sayang yaitu Rahman dan Rahim (Pengasih dan Penyayang). Dengan pemaparan sifat yang sederhana inilah seharusnya muslim(ah) mempelopori kepedulian terhadap sesama dan lingkungannya. Sebab kepedulian merupakan wujud dari kasih dan sayang itu sendiri.
---
Lihatlah contoh yang telah diberikan oleh generasi-generasi awal ummat ini. Jangankan dalam masa damai, dalam masa perangpun ummat dilarang untuk melakukan pengrusakan terhadap tanaman dan binatang secara semena-mena. Lihat pulalah ajaran agama ini (islam) yang mewajibkan ummatnya untuk senantiasa peduli terhadap masyarakat dia tinggal. Mari kita tengok beberapa wejangan agama ini: "Bila kalian membuat masakan perbanyaklah kuahnya agar tetangga kalian dapat menikmatinya, dan tidak diakatakan beriman kalau kalian tidur dengan kenyang sementara tetangga kalian kelaparan, dan masih banyak "wejangan-wejangan" dalam ajaran agama ini.
---
Pada situasi saat ini, ditengah situasi dunia yang dipenuhi amarah, ditengah belantara kekerasan, dan ditengah ketidakpedulian terhadap sesama, sukar rasanya bagi kita untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap lingkungannya. Manusia lebih memikirkan keuntungan diri sendiri dan tidak mau tahu terhadap kondisi sekelilingnya. Padahal kepedulian terhadap sesama dan terhadap lingkungan dimana kita tingggal adalah syarat mutlak dalam membangun suasana kehidupan yang beradab. Tanpa kepedulian akan tumbuh kegersangan dalam jiwa . Dan bila jiwa manusia sudah "gersang", maka yang ada hanyalah hawa nafsu belaka. Dan bila hawa nafsu sudah merajalela, maka kehancuranlah yang bakal terjadi.
---
Lihatlah penghancuran dan kehancuran yang dilakukan diberbagai bidang kehidupan dimana kita tinggal. Hutan kita mungkin akan lenyap dalam 15 tahun ke depan bila kita tidak peduli terhadap kelestariannya atau bila penebangan liar terus dilakukan tanpa henti. Banjir/ banjir bandang, tanah longsor dan bencana alam lainnya sudah merupakan tamu yanng mesti kita tunggu kehadirannya setiap saat. Binatang-binatang yang terlindungi sudah hampir punah, karena perburuan liar. Pencemaran lingkungan sudah semakin parah, manusia sudah tak peduli lagi terhadap akibat yang diperbuatnya, air sungai sudah tercemar dan berwarna hitam legam bahkan air sungai di sepanjang jl. Raya bogor kadang bewarna merah, biru, hitam dan banyak warna-warna lainnya. Penggunaan formalin dan borax yang dapat mengancam kehidupan manusiapun merajalela di produk-produk makanan yang langsung berhubungan dengan masyarakat. Perang antar desa/ antar anak sekolah pun hampir setiap hari kita dengar dan saksikan yang diakibatkan oleh masalah yang sepele. Atau karena minyak sebuah negara adidaya rela memporakporandakan sebuah negeri yang berdaulat. Moral masyarakatpun dari waktu ke waktu terus meluncur bebas. Dan kemiskinan semakin merajalela dinegara yang disebut sebagai negara "gemah ripah loh jinawi", negara yang bila tongkat, kayu dan batu dilempar dimanapun akan tumbuh menjadi tanaman. Penindasan terhadap kaum (negara) lemah makin merajalela diseluruh dunia.
---
Itulah beberapa contoh dari dampak yang dihasilkan bila tidak ada kepedulian atau bila nafsu sudah dijadikan Tuhan.


Bisa saja dia melempar anjing itu, atau mengusirnya
ataupun masa bodoh, lebih-lebih suasana yang tidak kondusif
yang tidak dimungkinkan adanya penghargaan
---
---
Kembali kita menengok hadits yang menjadi pembahasan pada tulisan ini.
Menyayangi yang digambarkan dalam hadits di atas membuat kita harus merenung lebih dalam lagi, sebab perasaan kasih dan sayang (kepedulian) diperankan oleh dua makhluk yang amat berbeda dari seluruh sudut pandang apapun kecuali bahwa kedua-duanya adalah makhluk ciptaan Tuhan, lebih-lebih suasana yang menurut hemat kita tidak akan terjadi perasaan kasih sayang (kepedulian) seperti itu.
---
Seorang manusia tidak dapat mengambil keuntungan secara materi dari makhluk yang ada dihadapannya. Malah kecenderungan manusia yang lelah karena perjalanan jauh umumnya dilampiaskan dalam bentuk amarah. Bisa saja dia melempar anjing itu, atau mengusirnya ataupun masa bodoh, lebih-lebih suasana yang tidak ada siapapun disekelilingnya yang tidak dimungkinkan adanya penghargaan dari manusia yang lain. Sebab kecenderungan manusia untuk dianggap berjasa terkadang atau sering kali muncul dalam dirinya sehingga ia mau melakukan perbuatan baik kalau ada orang yang melihatnya tetapi kalau tidak ada yang melihatnya dia enggan, apalagi yang ada dihadapannya hanyalah seekor anjing yang dianggap najis oleh masyarakat kita. Jangankan seekor anjing, kucing yang "mencuri" sepotong ikan dimeja makan, kita kejar-kejar dan lempar sambil sumpah serapah.
---
Itulah perasaan kasih sayang (kepedulian) yang diperankan oleh seorang manusia terhadap makhluk yang dianggap najis oleh masyarakat kita yang bila kita atau tempat makanan kita dijilatnya mesti dicuci sebanyak 7 kali.
---
Dari hal tersebut, kita dapat mengerti bahwa kasih sayang (kepedulian) bukanlah didasarkan atas keuntungan fisik/ materi yang akan diperoleh atau diraihnya tapi didasarkan atas keuntungan ruhani yang akan diraihnya, sehingga perasaan kasih sayang muncul kepada siapa dan apa saja dimana kita tidak diawasi oleh orang lain, karena kita yakin bahwa Alloh senantiasa melihat sepak terjang kita.(QS 58:7)
---
Oleh sebab itu Rasululloh menyatakan bahwa Alloh berterima kasih pada orang itu dan mengampuni dosanya. Sebaliknya orang yang tidak menyayangi binatang atau menyiksa binatang walaupun orang itu rajin beribadah maka ia mendapat siksa Alloh. Sabda Nabi SAW:"Seorang disiksa Alloh pada hari kiamat lantaran dia mengurung kucing sehingga kucing itu mati. Karena itu Alloh memasukkannya ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi makan dan minum dan tidak pula dilepaskannya supaya ia dapat menangkap makanannya yang terdapat di bumi" (Muslim 2097).

Andaikan dunia dipenuhi oleh oang macam laki-laki dalam hadits di atas, sudah tentu dunia akan menuju pada peradaban yang beradab. Tidak akan terjadi pembalakan liar (illegal logging), tidak akan terjadi longsor dan banjir dengan hebatnya, tidak akan terjadi ketimpangan sosial yang makin meruncing. Dunia pada akhirnya akan damai, aman sentosa, sebab mereka saling peduli saling memahami bahwa hidup bukan hanya untuk mereka saja, tapi juga untuk anak cucu cicit kita.
---
Dari pemaparan diatas memperlihatkan kepada kita bahwa Kasih sayang bukanlah suatu sikap yang mementingkan hawa nafsu. Kasih sayang juga bukanlah melihat segala sesuatu dari kacamata diri dan orang lain. Tapi kasih sayang harus dilihat dari kacamata Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sebab tidaklah dikatakan kasih sayang bila itu muncul dari hawa nafsu kita.(QS 60:7)
---
Demikianlah akhirnya kasih sayang akan membuat hati kita akan semakin kaya atau sebaliknya dengan kekayaan hati yang kita milikilah kita dapat melakukan kasih dan sayang kepada apa dan siapapun.
---
Dalam upaya meraih kasih sayang Alloh, kita harus berupaya melakukan kasih sayang terhadap makhluk di bumi. "Sayangilah yang dibumi nanti yang di langit akan menyayangimu". Semoga amarah, peringatan, nasehat merupakan wujud kasih sayang yang dilandasi oleh nilai-nilai Ilahiyah. Dan semoga Alloh memberikan kita kasih dan sayang-Nya. Amin.

Friday, April 21, 2006

Dunia Lebih Hina Dari Bangkai

Oleh : Muhasuh

Bangkai-bangkai busuk mungkin hari ini dan hari-hari lalu begitu amat dekatnya dengan kehidupan kita. Bau busuknya terasa begitu amat harum menurut penciuman kita. Tidak heran seringkali kita berdekatan dengan bangkai-bangkai tersebut bahkan mungkin kita menganggapnya sebagai hidangan yang lezat untuk kita santap.

Pada suatu hari Rasululloh Saw lewat di pasar melalui bahagian atas. Orang banyak mengikuti beliau di kiri dan di kanan. Beliau bertemu dengan bangkai seekor anak kambing yang kecil kedua telinganya (cacat) Lalu dihampiri dan diambilnya anak kambing pada telinganya. Kata beliau, "Siapakah diantara kamu yang suka membeli ini dengan satu dirham?" Jawab mereka, "Kami tidak suka sedikitpun jua. Untuk apa bagi kami". Tanya beliau, "Sukakah kamu diberi dengan cuma-cuma?" Jawab mereka, "Sekalipun dia hidup kami tidak akan mau, karena anak kambing itu bercacat. Kedua telinganya kecil. Apalagi dia sudah menjadi bangkai". Sabda Rasululloh Saw., "Demi Alloh, sesungguhnya dunia lebih hina disisi Alloh Ta’ala dari pada anggapanmu terhadap bangkai ini". (Muslim 4:386)
------
Segala bentuk kesenangan yang ditampilkan dalam pentas kehidupan dunia memang amat menarik hati setiap orang, sehingga apapun risiko yang harus dihadapi akan dilakukan, walaupun mungkin harus melewati jalanan yang terjal, hujan badai, panas terik, dingin yang begitu hebatnya, mengeluarkan biaya yang begitu banyaknya atau bahkan melakukan hal-hal yang tidak etis atau tidak bermoral sekalipun. Mereka tak peduli semua itu yang penting keinginan hawa nafsunya bisa terpenuhi dan terpuaskan.
Bentuk kesenangan dunia yang disebutkan di atas, dalam kehidupan sehari-hari banyak macamnya, diantaranya tempat-tempat hiburan/ tontonan yang menjajakan berbagai macam kesenangan sesaat, pergaulan bebas, berbagai jenis permainan, harta benda dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka yang tidak memanfaatkannya disebut sebagai orang kampungan. Mereka yang memanfaatkannya menganggap diri mereka sebagai orang modern yang memahami bagaimana seharusnya menikmati kehidupan ini.
Mereka memandang segala sesuatu tentang kesenangan bagaikan memandang keindahan alam. Mata mereka tak berkedip dan bibir mereka berdecak kagum. Sehingga mereka terus terpana oleh keelokannya. Kondisi tersebut direkam oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya: Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir (QS2:212).
Hal seperti itu pada akhirnya hanya akan menciptakan/ melahirkan manusia-manusia yang materialistis, yaitu manusia yang memandang orang lain melulu dari sisi (kaca mata) materi (kebendaan). Mereka lebih menghargai penampilan luar seseorang daripada sisi ruhaninya. Betapa banyaknya kita begitu menghargai orang yang berada (kaya) yang memiliki penampilan yang "wah", sementara kita tak memandang sebelah matapun kepada mereka yang miskin, bahkan kita begitu amat meremehkannya. Peristiwa seperti itu pernah pula terjadi pada masa Rasululloh SAW. "Abul Abbas (sahl) bin Sa’ad as Sa’dy ra berkata: Ketika Rasululloh SAW sedang duduk, tiba-tiba ada orang yang lewat didepannya, lalu Rasululloh SAW bertanya kepada orang yang berada disebelahnya, Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini? Jawabnya, "Ia adalah seorang bangsawan. Demi Alloh, sungguh layak apabila ia meminang akan diterima, dan apabila ia membantu memintakan sesuatu untuk orang lain pasti akan diterima." Rasululloh SAW pun diam. Kemudian lewat orang yang lain. Rasululloh SAW bertanya lagi kepada shahabat yang berada disebelahnya. "Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?" Jawabnya, kalau ia meminang tidak diterima dan kalau ia menolong memintakan sesuatu untuk orang lain tidak diterima". Maka bersabda Rasululloh SAW. "Orang ini (yang kedua) lebih baik sepenuh bumi daripada orang yang tadi itu (pertama)" (HR Bukhari Muslim H99 KC)
Bentuk-bentuk kesenangan dunia yang dapat dinikmati bukan hanya yang disebutkan di atas. Barangkali bentuk-bentuk tersebut memang selama ini kita jauhi karena begitu amat nyata mudharatnya dan dapat dilihat dengan kasat mata, padahal masih banyak bentuk-bentuk kesenangan yang secara sadar atau tidak sadar kita anggap hal yang biasa dan tidak akan berpengaruh pada pencapaian tujuan kehidupan kita dalam rangka beribadah kepada-Nya. Bentuk-bentuk tersebut umumnya begitu amat dekat dengan diri kita dan kehidupan kita. Bentuk kesenangan itu umumnya adalah sesuatu yang menyebabkan emosi kita ikut berperan dalam menikmatinya. Bisa dalam bentuk harta/ uang, permainan, benda atau binatang yang kita miliki, tontonan dalam berbagai bentuknya, anak/ istri/ suami, bacaan-bacaan, atau bahkan tubuh yang kita miliki. Pada kesempatan ini, saya mencoba untuk mengurainya menjadi 3 bagian, yaitu (1) harta benda/ uang, (2) binatang peliharaan, dan (3) diri sendiri.
Harta Benda/ Uang
Bentuk kesenangan berupa harta benda (uang) merupakan bentuk kesenangan yang paling amat dicari oleh manusia. Ia dibutuhkan oleh siapapun, dari orang miskin sampai orang kaya, dari petani sampai pejabat bahkan dari anak kecil sampai kakek-kakek. Dengan kata lain siapapun pasti membutuhkannya dan siapapun tidak akan puas dalam memilikinya. Nabi SAW bersabda : "...andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah dari emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat menutup mulutnya (menghentikan kerakusannya pada dunia) kecuali tanah (maut)..." (HR Bukhari Muslim) H.28 KC.
Dalam upaya memenuhi keinginan dalam hal harta, banyak cara yang dilakukan oleh manusia dari yang wajar-wajar saja sampai yang tidak wajar bahkan kadang-kadang agak aneh. Yang wajar adalah dengan melakukan usaha, apapun itu yang penting halal dan baik (halalan thoyyibah). Nabi SAW bersabda:"Sungguh, sekiranya salah seorang dari kamu itu pergi mencari kayu bakar dan dipikul di atas pundaknya, lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau ditolak.." (HR Bukhari Muslim dr Abu Hurairah) 177.
Yang tidak wajar adalah melakukan penipuan, mencuri, prostitusi, berjudi, mengurangi sukatan (timbangan) sehingga merugikan orang lain. Firman Alloh: " Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan".(QS Huud (11): 85). Mereka tidak memperdulikan lagi halal atau haram, bagi mereka yang penting kebutuhannya terpenuhi. Benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi dalam sabdanya: "akan datang kepada manusia suatu masa, dimana orang tiada peduli akan apa yang diambilnya apakah dari yang halal ataukah dari yang haram" (HR Bukhari).
Dan yang aneh-aneh adalah bersekutu dengan syetan (Jin). Ada yang pergi ke gunung-gunung, orang pintar, memelihara Jin dan lain sebagainya. Perbuatan yang terakhir ini sudah tergolong kepada syirik. Al-qur’an mewartakan kepada kita bahwa memang ada segolongan manusia yang meminta perlindungan kepada Jin. Firman Alloh : "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan". (QS Al-Jin (72): 6). Bila kita perhatikan soal memelihara Jin ini, sesungguhnya yang terjadi adalah sebaliknya yaitu manusia itu sendirilah yang dipelihara oleh Jin untuk menjadi temannya di neraka kelak. Firman Alloh: "... Dan hari diwaktu Allah meng-himpunkan mereka semuanya : "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki ". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui..." (QS Al-An Am (6): 128)
Benda-benda Keramat/Binatang Peliharaan
Bentuk kesenangan dunia yang lainnya adalah benda-benda keramat atau binatang peliharaan. Menurut mereka kegunaan dari benda dan binatang ini adalah untuk ketenangan hati. Sungguh aneh kalau dikatakan hatinya tenang dengan memakai benda ini atau memelihara binatang itu. Bahkan lebih aneh lagi kalau ada orang yang tidak berpunya yang memiliki benda dan binatang tersebut, tidak mau melepaskan benda dan binatang tersebut meskipun dibeli dengan harga jutaan rupiah - katanya-.
Padahal benda atau binatang tak akan mampu memberikan ketenangan yang hakiki, dan yang mampu memberi ketenangan yang sebenarnya/ hakiki dalam hati manusia hanyalah Alloh, sesuai dengan firman-Nya: "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka ...." (QS Al-Fath (48): 4)
Adakalanya kita menjadikan binatang peliharaan sebagai kesenangan, ada yang kita ambil manfaat suaranya, kebagusan kulitnya dan lain-lain sebagainya. Terkadang kesenangan ini membuat kita lupa pada sekeliling kita bahkan diri kita sendiri. Kita mandikan, kita beri makan yang enak-enak, sementara dirinya dan keluarganya makan dengan seadanya. Terlambat memberi makan atau memandikan, semua penghuni rumah dimarahi. Atau terkadang saking asyiknya kita hingga lupa akan perintah Alloh. Kita merasa tak bersalah sebab hal ini bukan merupakan bentuk kemaksiatan tetapi sekedar hobbi yang kita anggap wajar.
Salah satu bentuk kesenangan yang telah memperdaya Nabi Sulaiman adalah sesuatu yang amat dekat dengan dirinya. Kesenangan tersebut bukanlah bentuk kemaksiatan dalam arti yang secara umum dipahami, namun merupakan hal yang menurut penilaian kita amat wajar kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu sesuatu yang amat kita senangi berupa hewan peliharaan. Lebih jauh Al-Qur'an mengungkap hal tersebut: "(Ingatlah) ketika dipertunjukkan padanya (Sulaiman) kuda-kuda yang tenang ketika berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: 'Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) karena ingat pada Tuhanku sampai kuda itu tertutup dari pandangan. (Ia berkata): 'Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku. Lalu ia memotong leher dan kakinya" (QS38:31-33)

Ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa kesenangan dunia bisa melalaikan siapa saja dari mengingat Alloh, dari masyarakat biasa sampai kepada seorang Nabi. Andaikan seseorang tidak menyadarinya, maka ia akan menganggap biasa hal-hal tersebut. Namun bagi mereka yang menyadari bahwa kesenangan itu telah merenggut cinta kasih Alloh kepadanya, maka ia akan berusaha sekuat tenaga menyingkirkan/ membunuh kesenangan dunia yang telah memperdayakannya. Dan berusaha sekuat daya dan upaya pula untuk meraih kembali cinta kasih sejati dari Alloh SWT.

Sesuatu yang mati memang harus segera kita kubur
agar tidak menjadi bangkai yang mengeluarkan aroma yang tidak sedap
yang nantinya akan menyebarkan penyakit,
walaupun yang mati adalah sesuatu yang menjadi kesayangan kita.
Kesenangan Diri (Hawa Nafsu)
Bentuk kesenangan yang lainnya adalah kesenangan akan diri sendiri, yaitu bentuk kesenangan yang memanjakan diri. Bentuk kesenangan ini umumnya dilakukan karena faktor ketidaktahuan akan jati dirinya sebagai hamba Alloh, sehingga mereka mudah ikut-ikutan dan terbawa arus. Mereka malu bila tidak mengikuti perkembangan mode, baik pakaian, gaya hidup dan lain sebagainya. Jadilah ia senantiasa orang memperturutkan keinginannya (hawa nafsunya) tersebut. Alloh SWT berfirman : "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya ..." (QS Jatsiyah (45:23). Lebih jauh Alloh SWT menegaskan bahwa kita dilarang untukmengikuti sesuatu apapun itu yang kita tidak mengetahui kemanfaatan dari sudut pandang syar’i (Agama): "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS Al-Isra (17) : 36)
Kondisi hari ini bisa kita saksikan betapa banyaknya manusia yang memanjakan dirinya tanpa tahu manfaatnya, baginya perkembangan mode/ gaya hidup bukan sekedar diketahui tapi harus diikuti dan masuk kedalamnya. Maka bisa kita saksikan dalam kehidupan kita gaya hidup yang tidak mencerminkan nilai-nilai wahyu tumbuh menjamur, seperti samen leven, perkawinan sesama jenis, kontes-kontesan yang menampilkan aurat dan lain sebagainya.

Bila dalam usaha meloloskan Gus Dur menjadi Presiden terbentuk "Poros Tengah", maka dalam hal kesenangan pribadi terbentuk suatu komunitas yang dikenal dengan "Polos Tengah", yaitu suatu mode pakaian yang umumnya dikenakan oleh para wanita dengan menampilkan "Tengah-Tengah Tubuhnya" ( B*j*l, b*k*ng, d*d*, p*h* maksudnya - red). Mereka berpakaian namun sebagian besar tubuhnya terbuka atau lekuk-lekuk tubuhnya "dapat dibaca" bahkan oleh orang yang buta huruf sekalipun. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda: Ada dua macam penduduk neraka yang keduanya belum kelihatan olehku (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang dipergunakannya untuk memukul orang (2) wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang, dan wanita-wanita yang mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka bagaikan punuk onta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal surga dapat tercium dari jarak yang sangat Jauh" (HR Muslim dari Abu Hurairah) h 117-2004.

Ketika Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) sedang dibahas, maka terjadi gelombang penolakan yang begitu hebatnya. Mereka umumnya mengatasnamakan HAM (kesenangan pribadi). Mereka tidak pernah sadar (sadar???) bahwa (tubuh) mereka tengah dieksploitasi (dijual) oleh segelintir orang yang bisnis mereka merasa terancam dengan adanya RUU APP ini. Maka mereka serentak bersatu padu menghadang laju pembahasan RUU-APP dan mereka mengharapkan agar agama (Islam) jangan memasuki ranah mereka, atau dalam bahasa seni dikenal dengan Seni untuk Seni. Maka amat benar lah apa yang diwahyukan oleh Alloh "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya ..." (QS Jatsiyah (45:23)

Itulah beberapa hal bentuk kesenangan dunia yang diperjuangkan mati-matian dalam meraihnya, seakan-akan dunia itu kekal, seakan-akan mereka kekal, seakan-akan mereka pahlawan pembela kebenaran. Mereka lupa bahwa dunia itu sementara, mereka juga sementara. Seuanya akan lenyap/ musnah dan kekallah Alloh, lantas mengapa mereka tidak (mau) mengikuti yang kekal???
Sebagai insan beriman, kita mesti menyadari bahwa dunia hanyalah tempat atau sarana sementara kita untuk melakukan aktifitas-aktifitas. Yang tentunya jangan membuat kita ngoyo mengejar kesenangan-kesenangan semu yang ditampilkannya, karena pada akhirnya semua yang kita kejar atau buru untuk kita jadikan kesenangan akan lenyap dan musnah bersama lenyap dan musnahnya kita dari dunia ini. Alloh befirman: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS 18:45).

Senada dengan hadits yang disebutkan pada paparan makalah ini, dalam salah satu hadits qudsi, digambarkan bahwa kesenangan dunia bagaikan bangkai dan orang yang memperebutkannnya atau memburunya diumpamakan sebagai anjing. "Alloh SWT telah mewahyukan kepada Daud, perumpamaan dunia yaitu laksana bangkai dimana anjing-anjing berkumpul mengelilinginya, menyeretnya kian kemari. Apakah engkau senang menjadi seekor anjing, lalu ikut bersama mereka menyeret bangkai-bangkai itu kesana kemari?

Kebiasaan-kebiasaan yang menyita waktu kita untuk mengingat Tuhan merupakan bentuk lain dari kesenangan dunia. Mungkin secara sadar atau tidak sadar, dalam diri kita dan sekeliling kita terdapat kesenangan dunia yang kita kenakan, yang kita anggap sebagai hal yang lumrah, padahal hal tersebut telah menyita perhatian kita yang sesungguhnya dari kekasih sejati kita.

Bangkai-bangkai yang disebutkan dalam hadits qudsi tersebut mungkin hari ini dan hari-hari lalu begitu amat dekatnya dengan kehidupan kita. Bau busuknya terasa begitu amat harum menurut penciuman kita. Tidak heran seringkali kita berdekatan dengan bangkai-bangkai tersebut bahkan mungkin kita menganggapnya sebagai hidangan yang lezat untuk kita santap.

Sesuatu yang mati memang harus segera kita kubur agar tidak menjadi bangkai yang mengeluarkan aroma yang tidak sedap yang nantinya akan menyebarkan penyakit, walaupun yang mati adalah sesuatu yang menjadi kesayangan kita.
Kita berharap semoga kita tidak menjadi anjing-anjing yang menyeret bangkai kesana kemari, dan kita berharap semoga kita menjadi seorang musafir dalam kehidupan ini, yang dengan bekal secukupnya mampu menjelajah dunia, merenunginya, dan menjadikan kita mampu memahami arti kehidupan ini. Amin!

Wednesday, April 12, 2006

Bayi Bicara

Oleh : Muhasuh

Di dalam hadits Nabi dikemukakan tentang tiga bayi yang dapat berbicara, yaitu (1) Isa binti Maryam, (2) Bayi dalam kisah Juraiz (insyaAlloh akan dibahas dalam tulisan tersendiri), (3) bayi yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Dalam pemaparan tentang tema di atas, bukan perihal bayi yang dapat berbicara yang diangkat dalam pembahasan, namun kita mencoba untuk mengambil hikmah dari kisah tersebut dengan berusaha mengaitkannya dengan kondisi-kondisi yang sering kita hadapi. Simbol-simbol yang ditampilkan dalam kisah tersebutlah yang harus kita ambil hikmahnya. Semoga tulisan singkat ini dapat membuka mata hati kita untuk merenung lebih dalam lagi. Selamat menikmati.

Sabda Rasulullah SAW:
Ketika ada seorang bayi sedang menyusu pada ibunya, tiba-tiba ada seorang berkendaraan yang mewah sekali, maka berkata si ibu: : Ya Alloh, jadikanlah putraku ini seperti orang itu. Mendadak bayi itu melepaskan mulutnya dan melihat pada orang yang berkendaraan itu sambil berkata: Ya Alloh jangan Engkau jadikan saya seperti orang itu, lalu melanjutkan menyusu lagi. Kemudian tiada lama ada seorang budak dipukuli oleh majikannya sambil dikatakan: Kau pencuri, kau pelacur. Sedang budak itu hanya membaca Hasbiyallohu wani’mal wakil. Maka ibunya berkata : Ya Alloh jangan dijadikan anakku ini seperti orang itu. Maka bayi itu segera menghentikan aktifitas menyusunya dan melihat pada budak yang dianiaya itu sambil berdoa: Ya Alloh jadikanlah saya seperti orang itu. Kemudian terjadi tanya jawab antara ibu dengan bayinya. Berkata ibu : Tadi ada orang mewah, saya berdo’a : Ya Alloh jadikanlah putraku seperti dia. Mendadak kau berkata : Ya Alloh jangan Kau jadikan saya seperti dia. Kemudian ada budak dipukuli karena berzina, mencuri dan saya berdo’a: Ya Alloh jangan jadikan putraku seperti dia. Mendadak kau berdo’a : Ya Alloh jadikanlah saya seperti dia. Jawab si bayi : Orang laki-laki yang gagah tadi adalah orang yang sangat kejam, sedang budak itu dituduh berzina padahal tidak berzina, dituduh mencuri padahal tidak mencuri, maka saya berdo’a : Ya Alloh jadikanlah saya seperti dia. (Bukhori Muslim)---
Seringkali kita menilai orang lain dari kulit luarnya saja. Bagi kita kemewahan, kekayaan, pangkat/ kedudukan yang tinggi menunjukkan kebahagiaan, dan sebaliknya kemiskinan menunjukkan kesengsaraan. Padahal yang nampak dari luar belum tentu menunjukkan apa yang ada di dalamnya. Ibarat buah yang kulit luarnya bagus belum tentu isinya bagus juga.
Dalam pentas kehidupan dunia seringkali perlakuan kepada keduanya, yaitu yang kaya dan miskin amat sangat berbeda. Seorang yang kaya, berkedudukan akan mendapat perlakuan yang istimewa, Kehadirannya disambut dengan senyum mengembang, diberikan karpet merah, atau kita berlomba-lomba untuk dekat dengannya bagaikan semut mengerubungi gula, dan minta foto bersama sebagai kenang-kenangan.
Sementara mereka yang papa lagi miskin, tidak memiliki kedudukan akan dilihat dengan sebelah mata. Kehadirannya disambut dengan senyum terpaksa. Sambutannyapun dengan sambutan seadanya, karena sesungguhnya kita malas untuk bertemu dengannya. Apalagi sekedar berbincang, yang ada paling-paling bincang-bincang basa basi.
Hal-hal tersebut dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari disekeliling kita. Bahkan tidak tertutup kemungkinan kitapun ada di dalamnya sambil menikmati kelakuan kita tersebut. Betapa sangat kontras perlakuan kita terhadap keduanya. Jauh... jauh dan sangat jauh.
Memang seseorang yang senantiasa terpedaya oleh gerlapnya dunia cenderung melihat sesuatu dari sisi ini (sisi luar). Atau seseorang yang diterpa kemiskinan seringkali mengharapkan dirinya seperti orang yang kaya (berangan-angan).
Dalam Al-Qur'an Alloh menampilkan adegan tersebut. firman-Nya: "Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dengan kemegahan. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia mempunyai keberuntungan yang besar' "(QS 28:79)
Inilah penilaian yang diberikan oleh orang-orang yang kurang/ tidak memiliki pemahaman yang utuh akan hakekat kehidupan yang cenderung tidak shabaran dalam menjalani hari-hari dalam kehidupannya. Mereka ingin cepat kaya secara instan, kalau melihat kemewahan selalu berangan-angan. Baginya dengan hartalah terletak kehormatan dan martabat dalam kehidupan.
Pandangan yang sebaliknya ditampilkan pula oleh Alloh dalam ayat selanjutnya. Firman-Nya: "Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: 'Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali bagi orang-orang yang shabar'" (QS28:80)
Manusia yang memiliki pandangan seperti ini, adalah manusia yang memahami hakekat kehidupan. Karena mereka yakin harta takkan mampu mengantarkanmereka pada kebahagiaan yang hakiki, hanya keimanan yang kuat
Memahami maksud hadits di atas dengan simbol yang ditampilkannya yaitu seorang ibu, bayi, pembesar, simiskin yang papa dan para pengiring. kita mendapatkan beberapa penjelasan dari simbol yang ditampilkan tersebut.
Si Ibu adalah simbol atau sosok manusia kebanyakan yang belum memiliki pengetahuan yang benar-benar utuh akan makna hidup dan kehidupan atau belum mendapatkan informasi yang benar tentang hakekat kehidupan, sehingga ia hanya dapat menangkap enaknya hidup sebagai orang yang berpunya. Atau mungkin si Ibu merasakan betapa tidak enaknya menjadi orang yang tidak berpunya, yang setiap saat diperlakukan tidak semestinya oleh orang-orang yang berpunya, yang setiap saat harus membanting tulang guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga berat rasanya menjalani hari-harinya. Berat rasanya beban yang menggayuti pundaknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berat rasanya melihat harga-harga kebutuhan hidup yang terus menerus tidak mau turun, sehingga dia berangan-angan/ bercita-cita agar kelak anaknya menjadi orang kaya, bagaimanapun caranya.
Sementara si bayi mewakili orang-orang yang jernih dalam melihat atau menilai sesuatu. Orang yang tidak terpedaya akan kehidupan dunia dan tidak terkecoh dengan sandiwara dunia yang dilihatnya dan merupakan orang yang jujur dalam kehidupannya.
Sosok bayi dalam ajaran islam acapkali dijadikan sebagai simbol dari kebersihan/ kesucian jiwa. Dalam beberapa hadits dikatakan: "... bersih/suci bagaikan bayi yang baru dilahirkan". Orang yang telah selesai melaksanakan shaum dan haji dengan benar maka dosanya dihapuskan bagaikan bayi yang baru lahir. Dengan kata lain ia adalah simbol dari manusia yang terus menerus mengasah seluruh potensi yang dimilikinya agar sesuai dengan kehendak pemberi potensi itu sendiri. Dia adalah sosok yang tidak pernah mau berkompromi dengan segala bentuk kepalsuan kehidupan dunia. Dia adalah bagaikan musafir yang memahami hakekat beban perjalanan yang harus di bawanya, sehingga ia tidak pernah diperdaya oleh fatamorgana dunia. Dia adalah sosok manusia "aneh", "asing", "terasing", "diasingkan". Aneh dan asing di tengah dunia kepalsuan dan fatamorgana.
Sosok pembesar adalah orang yang "gila" terhadap kekayaan dan kemewahan serta penghormatan. Sehingga ia dapat melakukan apa saja dengan harta kekayaannya. Baginya apapun dapat dibeli. Inilah manusia yang rakus, manusia yang tidak peduli terhadap sekelilingnya, yang hari ini dapat kita saksikan dalam kehidupan kita. Dia dapat berubah wajah, kadang-kadang dia berwajah "dermawan" karena ada kepentingan pribadi didalamnya. Kadang ia berwajah "ular" karena begitu rakusnya terhadap kekayaan, kemewahan.
Sosok sihina yang ditampilkan dalam hadits di atas adalah segolongan kecil dari masyarakat. Mereka yang jujur dan lurus. Namun karena kejujurannya itulah sosok si hina ini seringkali dijadikan kambing hitam atas setiap permasalahan Karena ia tidak memiliki kekuasaan, dan tak mampu membeli hukum dan aparat hukum.
Sementara sosok mereka yang mengiringi si pembesar dan memukuli si hina adalah simbol dari sebagian besar masyarakat kita yang cenderung melihat segala sesuatunya berdasarkan kepentingan materi. Ia tidak peduli terhadap kebenaran. Baginya yang mampu memberi materi lebih banyak, itulah yang harus di dukung dan dihormati dengan segenap jiwa raganya.

Dalam upaya memahami hakekat kehidupan, mau tidak mau kita mesti membersihkan diri kita sehingga kita dapat memandang dengan jernih setiap aktifitas kehidupan ini. Kita perlu untuk mencari air dan jangan sekali-kali kita mengejar fatamorgana. Sekali kita mengejar fatamorgana, maka kekecewaanlah yang akan kita dapatkan.